Wednesday, October 19, 2016

Daftar jurnal nasional dan internasional langganan Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional RI telah melanggan beberapa database jurnal nasional dan internasional terkemuka untuk berbagai bidang ilmu.

Diantaranya:
1.Alexander Street Press
2.Alexander Street Video
3.Balai Pustaka
4.Brill Online
5.Cambridge University Press
6.Cengage Learning
7.Ebrary
8.Ebsco Host
9.IGI Global
10.IG Publishing
11.Indonesia Heritage Digital Library
12.Digital Angkasa
13.Lexis Nexis
14.Myilibrary
15.Proquest
16.Sage Knowledge
17.Taylor & Francis
18.Ulrichs
19.Westlaw
(IG Group mencakup koleksi American Library Association, American Society for Training & Development, Amsterdam University Press, Business Expert, Columbia University Press, Hawai, ISEAS, Liverpool University Press, Nias Press, Princeton University Press, RIBA Architecture, dan University Of California Press)

Anda hanya perlu jadi anggota perpus secara online dan bisa mengakses (mengunduh) jurnal-jurnal tersebut DI MANAPUN ANDA BERADA.

*Caranya mudah:*
1. Mendaftar dahulu di
http://keanggotaan.pnri.go.id/daftar.aspx
dan mendapatkan nomor keanggotaan PNRI.

2. Kemudian masuk ke e-resources.pnri.go.id untuk mendaftarkan username dan password dengan menggunakan nomor keanggotaan PNRI yang telah didapat.

Pihak perpus akan mengirimkan email aktivasi akun anda, dan VOILA!

Mohon bantu menyebarkan ke teman dan kolega yang lain. Mudah-mudahan bisa dimanfaatkan secara optimal, karena langganan email ini dibiayai uang rakyat.

Mohon dishare seluas-luasnya.

Terima kasih. Digital Library PNRI
http://e-resources.pnri.go.id

*Call Center*
PNRI
National Digital Library
0800-1-737787
(Name & Membership ID)

*Semoga bermanfaat*

Friday, September 16, 2016

WAWANCARA IMAJINER DENGAN HADHRATUS SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI

Oleh: KH. A. Musthofa Bisri Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang

Ungkapan saya ‘berkangen-kangenan’ mungkin kurang tepat meskipun sekadar imajiner, karenanya saya beri tanda kutip. Soalnya yang kangen hanya saya dan saya tidak ‘menangi’ (pernah bertemu-red) tokoh yang saya kangeni itu. Dari apa yang saya dengar tentang Hadhratus Syaikh dan rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang berhasil saya kumpulkan sampai saat ini, saya memperoleh gambaran yang demikian jelas mengenai Bapak NU ini sehingga seolah-olah saya ‘menangi’ beliau.

Ketika saya, baru-baru ini dihadiahi oleh Kiai Muchith Muzadi sebuah copy kitab susunan Sayyid Muhammad Asad Syihab (cetakan Beirut) berjudul “al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadhi’u Labinati Istiqlali Indonesia” (Mahakiai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia) dan dua khutbah Hadhratus Syaikh, ‘kangen’ saya pun kian menjadi-jadi.

Keinginan untuk melakukan wawancara imajiner dengan beliau pun tidak bisa saya ‘empet’ (tahan-red). Tiba-tiba saya sudah berada dalam majelis yang luar biasa itu. Suatu halaqah raksasa yang menebarkan wibawa bukan main mendebarkan. Kalau saja tidak karena senyum-senyum lembut yang memancar dari wajah-wajah jernih sekalian yang hadir, niscaya saya tak akan tahan duduk di majelis ini. Mereka yang duduk berhalawah dengan anggun di sekeliling saya tampak bagaikan sekelompok gunung yang memberikan rasa teduh dan damai. Sehingga rasa ‘ngeri’ dan gelisah saya berkurang karenanya.

Begitu banyak wajah ratusan atau bahkan ribuan memancarkan cahaya, menyinari majelis, ada yang sudah saya kenal secara langsung atau melalui foto dan cerita-cerita, ada yang sebelumnya hanya saya kenal namanya dan masih banyak lagi yang namanya pun tidak saya ketahui. “Itu tentu Kiai Abdul Wahab Hasbullah!” Wajahnya yang kecil masih tetap berseri-seri menyembunyikan kekuatan yang tak terhingga.

Duduk di sampingnya Kiai Bishri Syansuri, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Nawawi Pasuruan, Kiai Ridhwan Semarang, Kiai Maksum Lasem, Kiai Nahrowi Malang, Kiai Ndoro Munthah Bangkalan, Kiai Abdul Hamid Faqih Gresik, Kiai Abdul Halim Majalengka (salah seorang perintis PUI), Kiai Ridhwan Abdullah, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz dan Kiai Abdullah Ubaid dari Surabaya.

Yang pakai torpus tinggi itu tentu Syaikh Ahmad Ghanaim al-Mishri dan yang disampingnya itu Syaikh Abdul ‘Alim ash-Shiddiqi. “Oh, itu Kiai Saleh Darat, Kiai Subki Parakan, Kiai Abbas Abdul Jamil Buntet, Kiai Ma’ruf Kediri, Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Dalhar Magelang, Kiai Amir Pekalongan, Kiai Mandur Temanggung!” kembali batinku memekik.

Yang asyik berbisik-bisik itu pastilah Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kyai Mahfudz Shiddiq, Kiai Dahlan dan Kiai Ilyas. Saya melihat juga Kiai Sulaiman Kurdi Kalimantan, Sayyid Abdullah Gathmyr Palembang, Sayyid Ahmad al-Habsyi Bogor, Kiai Djunaidi dan Kiai Marzuki Jakarta, Kiai Raden Adnan dan Kiai Mayud Sala, Kiai Mustain Tuban, Kiai Hambali dan Kiai Abdul Jalil Kudus, Kiai Yasin Banten, Kiai Manab Kediri, Kiai Munawwir Jogja, Kiai Dimyati Termas, Kiai Cholil Lasem, Kiai Cholil Rembang, Kiai Saleh Tayu, Kiai Machfud Sedan, Kiai Zuhdi Pekalongan, Kiai Maksum Seblak, Kiai Abu Bakar Palembang, Kiai Dimyati Pemalang, Kiai Faqihuddin Sekar Putih, Kiai Abdul Latif Cibeber, Haji Hasan Gipo, Haji Mochtar Banyumas, Kiai Said dan Kiai Anwar Surabaya, Kiai Muhammadun Pondohan , Kiai Siradj Payaman, Kiai Chudlori Tegalrejo, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Badruddin Honggowongso Salatiga, Kiai Machrus Ali Lirboyo, Kiai, Kiai…

Di tengah-tengah lautan kiai dan tokoh-tokoh NU itu, Hadhratus Syaikh bersila dengan agung, dengan wajah teduh yang senantiasa tersenyum. Namun, betapa pun jernih wajah-wajah meraka, saya masih melihat sebersit keprihatinan yang getir. Karenanya pertanyaan pertama yang saya ajukan setelah berhasil mengalahkan rasa rendah diri yang luar biasa adalah, “Hadhratus Syaikh, saya melihat Hadhratus Syaikh dan sekalian masyayikh yang berada di sini begitu murung. Bahkan di kedua mata Hadhratus Syaikh yang teduh, saya melihat air mata yang menggenang. Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat Hadhratus Syaikh dan sekian masyayikh berprihatin? Apakah gerangan yang diprihatinkan?”

Hampir serentak, Hadhratus Syaikh dan sekian masyayikh tersenyum. Senyum yang sulit saya ketahui maknanya. Tampaknya Kiai Abdul Wahab Hasbullah sudah akan menjawab pertanyaan saya, tapi buru-buru Hadhratus Syaikh memberi isyarat dengan lembut. Ditatapnya saya dengan senyum yang masih tersungging, seolah-olah beliau hendak membantu mengikis kegelisahan saya akibat wibawa yang mengepung dari segala jurusan. Baru kemudian beliau berkata dengan suara lunak namun jelas. “Cucuku, kau benar. Kami semua di sini, Alhamdulillah hidup dalam keadaan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tidak kurang suatu apa. Kalau ada yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan kalian. Kami selalu mengikuti terus apa yang kamu lakukan dengan dan dalam jam’iyyah yang dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap, setelah kami, jam’iyyah ini akan semakin kompak dan kokoh. Akan semakin berkembang. Semakin bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Semakin mendekati cita-citanya. Untuk itu kami telah meninggalkan bekal yang cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang jelas dan tuntunan yang gamblang.”

“Jam’iyyah ini dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan pengikutnya, tidak saja dalam rangka memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengajarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara dan umat manusia.”

“Sebenarnya kami sudah bersyukur bahwa khittah kami telah berhasil dirumuskan dengan jelas dan rinci sehingga generasi yang datang belakangan tidak kehilangan jejak para pendahulunya. Dengan demikian, langkah-langkah perjuangan semakin mantap. Tapi kenapa rumusan itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak warga jam’iyyah yang kaget, bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain, saling bertengkar dan saling mencerca. Tidak cukup sekadar berbeda pendapat (ikhtilaf), saling ‘ungkur-ungkuran’ (tadabur), bahkan saling memutuskan hubungan (tawathu’). Padahal mereka, satu dengan yang lain bersaudara. Sebangsa. Setanah-air. Se-agama. Se-Ahlussunah wal Jama’ah. Se-jam’iyyah.”

“La haula wala quwwata illa billah…”, gumam semua yang hadir serempak, membuat tunduk saya semakin dalam. Saya merasakan berpasang-pasang mata menghujam ke diri saya bagai pisau-pisau yang panas. Sementara Hadhratus Syaikh melanjutkan masih dengan nada yang lembut, penuh kebapakkan. “Yang sedang bertikai itu sebenarnya masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mempertahankan prinsip apa? Sehingga begitu ringan mengorbankan prinsip persaudaraan yang agung?”

“Sejak awal saya kan sudah memperingatkan, baik dalam Muqaddimah al-Qanuun al-Asasi maupun di banyak kesempatan yang lain, akan bahayanya perpecahan dan pentingnya menjaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan baik. Sebaliknya dengan persatuan, tantangan yang bagaimana pun beratnya Insya Allah akan dapat diatasi.”

“Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tetapi tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’, apapun alasannya hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang oleh agama kita.”

“Kalau di dalam organisasi, tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’ itu merupakan malapetaka. Maka apa pula itu namanya jika terjadi dalam tubuh organisasi ulama dan para pengikutnya?” Hadhratus Syaikh menarik nafas panjang, diikuti serentak oleh ribuan gunung kiai. Suatu tarikan nafas yang disusul gemuruh dzikir dalam nada keluhan, “La haula wala quwwata illa billah…”

Saya sedang mengumpulkan kebenaran untuk mengatakan kepada Hadhratus Syaikh bahwa warga jam’iyyah baik-baik saja. Kalaupun ada sedikit ketegangan itu wajar, kini sudah membaik tak ada yang perlu diprihatinkan. Ketika beliau berkata, “Engkau tidak perlu menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Kami tahu semuanya. Mungkin keadaan yang sebenarnya tidak separah yang tampak oleh kami. Namun yang tampak itu sudah membuat kami prihatin. Kami ingin khidmah yang dilakukan oleh jam’iyyah ini sebanding dengan kebesarannya.”

“Lalu apa nasphat Hadhratus Syaikh?” pertanyaan ini meluncur begitu saja tanpa saya sadari.

“Nasihatku, lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat khittah jam’iyyah. Pahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Waspadalah terhadap provokasi kepentingan sesaat! Itu saja.”

Mendengar nasihat singkat itu, tanpa saya sadari, saya melayangkan ke wajah-wajah jernih berwibawa di sekeliling saya. Semuanya mengangguk lembut seolah-olah meyakinkan saya bahwa nasihat Hadhratus Syaikh itu tidaklah sesederhana yang saya duga.

“Dan belajarlah berbeda pendapat!” seru sebuah suara yang ternyata adalah suara Kiai Abdul Wahid Hasyim. “Berbeda pendapat dengan saudara adalah wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.”

Sekali lagi semuanya mengangguk-angguk lembut. Saya tidak bisa dan tidak ingin lagi meneruskan wawancara. Saya hanya menunggu. Ingin lebih banyak lagi nasihat. Tapi yang saya dengar kemudian adalah ayat al-Quran yang dibaca dengan khusyuk oleh –masya Allah- Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari mengharapkan keridhaanNya dan jangan palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharap gemerlap kehidupan dunia ini dan jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya serta adalah keadaannya melampaui batas.”

Dan dengan berakhirnya bacaan ayat 28 al-Kahfi itu, saya tak mendengar lagi kecuali dzikir dan dzikir yang gemuruhnya serasa hendak mengoyak langit. (Diedit ulang dari http://www.kmnu.or.id/)

Wednesday, September 14, 2016

Dalil Kopi

Untukmu Wahai Pecinta Kopi

Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan:

يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد
شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد
حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد

"Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari ilmu.
Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah didalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah diantara manusia.
Kopi diharamkan bagi orang bodoh yang mengatakan keharamannya dengan keras kepala."

Kita juga bisa melihat komentar Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami ;

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل

"Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan. Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya, namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari Qoidah 'bagi perantara menjadi hukum tujuannya' maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya."

Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara.”

Nabi Muhammad Saw. kemudian bersabda: “Aku akan memberimu 3 hadits yang salah satunya : "Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu."

Al-Habib Abubakar bin Abdullah al-Atthas berkata: “Sesungguhnya tempat yang ditinggalkan dalam keadaan sepi atau kosong maka jin akan menempatinya. Sedangkan tempat yang biasa digunakan untuk membuat hidangan kopi maka para jin takkan bisa menempati dan mendekatinya.”

(Lihat dalam kitab Tadzkir an-Nas halaman 177 dan at-Tadzkir al-Mushthafa li Aulad al-Musthafa wa Ghairahum min Man Ijtbahu Allahu Washthafa karya al-Habib Abubakar al-Atthas bin Abdullah bin Alwi bin Zain al-Habsyi halaman 117).

☕☕☕ 😊👍🏻

Sunday, September 4, 2016

Passion dan Cinta

Dalam Kamus Inggris Indonesia karya John Echols dan Hasan Shadily, passion berarti (1) nafsu, keinginan besar; (1) kegemaran.

Jika ditelisik lebih jauh, passion termanifestasi dalam semangat besar dalam mengerjakan sesuatu. Semangat besar ini, disadari atau tidak, melahirkan rasa cinta. Rasa cintalah yang--menurut saya--menjadi energi besar untuk beraksi.

Jika Anda memiliki passion dalam bidang olah raga, Anda selalu berolahraga setiap ada kesempatan. Tidak ada rasa malas sama sekali. Hambatan apapun akan mampu ditundukkan. Itu semua karena rasa cinta yang tertanam dalam diri.

Seorang penggemar buku bisa membaca berjam-jam tanpa lelah. Rasa senang menelusuri halaman demi halaman menghilangkan kejenuhan dan kebosanan. Padahal bagi orang yang tidak menyukai aktivitas membaca, membaca justru menjadi obat tidur yang mujarab.

Pada bidang-bidang kehidupan lain yang sedemikian luas, passion tidak terlalu sulit untuk kita temui. Passion yang membuat seseorang mampu melakukan aktivitas di atas rata-rata.

Dalam kerangka pengembangan diri, passion penting dicari. Passion dapat menjadi sarana untuk aktualisasi potensi diri. Manusia-manusia sukses adalah manusia-manusia yang mampu menemukan passionnya secara baik.

Lalu apa relasi antara passion dengan cinta? Relasinya, menurut saya, cukup erat. Passion dan cinta bisa diibaratkan dua sisi mata uang. Satu sama lain saling melengkapi. Passion didasari cinta, dan cinta melahirkan passion.

Menurut Wishnubroto Widarso dalam buku Cinta Selayang Pandang (Yogyakarta: Kanisius, 2005), cinta itu mensyaratkan empat hal. Syarat pertama adalah CARE. Cinta mensyaratkan adanya perhatian serius. Orang yang memiliki cinta terhadap sebuah obyek akan memberi perhatian serius sebagai konsekuensi atas rasa cintanya. Kedua adalah Responsible, yaitu bertanggung jawab. Responsible berasal dari kata "respond" yang artinya menanggapi. Orang yang jatuh cinta tidak akan cuek dan acuh-tak acuh. Ia justru selalu bertanggung jawab dengan orang yang dicintai. Jika yang dicintai membutuhkan bantuan, ia siap memberikan. Ketiga, respect atau rasa hormat. Rasa hormat bukan berarti menyembah atau menjadi budak. Rasa hormat berarti memperlakukan obyek yang dicintai secara obyektif atau apa adanya. Bukan memaksa si obyek untuk menjadi sebagaimana yang kita inginkan. Tidak sedikit orang yang berharap agar obyek yang dicintai menjadi sebagaimana idealisasi kita. Jika ini yang terjadi namanya bukan respect tetapi pemaksaan. Dan keempat, knowledge atau pengetahuan. Orang yang mencintai tidak akan melabuhkan cintanya secara emosional. Cinta emosional adalah cinta yang semata-mata berlandaskan rasa tanpa memberi ruang pada rasio. Rasa itu landasan cinta, tetapi harus diimbangi dengan rasio. Rasio itu yang kemudian menghasilkan usaha untuk mendapatkan pengetahuan terhadap obyek yang dicintai.

Empat syarat cinta sebagaimana pendapat Wishnubroto Widarso tersebut memiliki relasi yang erat dengan passion. Passion yang ada seyogyanya juga berlandaskan pada empat hal tersebut. Dengan begitu tidak akan melahirkan cinta buta yang bisa merugikan salah satu atau bahkan kedua belah pihak.

Pelaksanaa *program Pemutihan* Pajak Kendaraan 2016

Pelaksanaa *program Pemutihan* Pajak Kendaraan 2016 akan di mulai pada tanggal *5 September 2016 sampai dengan 3 Desember 2016*, dan bila memungkinkan akan di perpanjang seperlunya.

Program Pemutihan Pajak Kendaraan 2016 ini meliputi :

1. Pembebasan Pokok dan segala sanksi administratif berupa kenaikan dan/atau bunga Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) atas penyerahan kedua dan seterusnya (BBN II) yang di berikan kepada seluruh masyarakat wajib pajak di Jawa Timur sebagai pemilik kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat.

2. Pembebasan semua sanksi administratif berupa kenaikan dan/atau bunga pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang di berikan kepada seluruh masyarakat wajib pajak di Jawa Timur sebagai pemilik kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat.

Kepada masyarakat yang akan mengikuti program Pemutihan pajak Kendaraan 2016 ini di himbau untuk melakukan pembayaran lebih awal, hal ini berdasarkan pada pengalaman di tahun – tahun sebelumnya selalu terjadi antrian panjang pada akhir periode program.

Persyaratan untuk mengikuti program Pemutihan Pajak Kendaraan 2016 sangat mudah, para wajib pajak hanya perlu membawa *(Surat Tanda Nomor kendaraan ) STNK asli dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli* yang *sesuai dengan nama di kepemilikan kendaraan*. Pembayaran Pemutihan Pajak Kendaraan 2016 ini tidak bisa di lakukan melalui Samsat Corner ataupun via ATM, melainkan masyarakat wajib pajak harus melakukan pembayaran ke kantor Samsat sesuai dengan wilayahnya masing – masing di mana kendaraannya terdaftar.

Tuesday, July 19, 2016

Mencoba Keberuntungan Google Adsense

Berawal dari informasi dan semangat seorang sobat, anggap saja namanya Aji, kucoba memainkan keberuntungan dengan memulai ritual sembah sewu abdi ndalem simbah Google adsense. ya, katanya, simbah tersebut sangat ampuh dalam mengijabahi impian banyak orang, hanya dengan klik klik dan klik sampean dapat meraup dolar dolar ameriki.