Dalam Kamus Inggris Indonesia karya John Echols dan Hasan Shadily, passion berarti (1) nafsu, keinginan besar; (1) kegemaran.
Jika ditelisik lebih jauh, passion termanifestasi dalam semangat besar dalam mengerjakan sesuatu. Semangat besar ini, disadari atau tidak, melahirkan rasa cinta. Rasa cintalah yang--menurut saya--menjadi energi besar untuk beraksi.
Jika Anda memiliki passion dalam bidang olah raga, Anda selalu berolahraga setiap ada kesempatan. Tidak ada rasa malas sama sekali. Hambatan apapun akan mampu ditundukkan. Itu semua karena rasa cinta yang tertanam dalam diri.
Seorang penggemar buku bisa membaca berjam-jam tanpa lelah. Rasa senang menelusuri halaman demi halaman menghilangkan kejenuhan dan kebosanan. Padahal bagi orang yang tidak menyukai aktivitas membaca, membaca justru menjadi obat tidur yang mujarab.
Pada bidang-bidang kehidupan lain yang sedemikian luas, passion tidak terlalu sulit untuk kita temui. Passion yang membuat seseorang mampu melakukan aktivitas di atas rata-rata.
Dalam kerangka pengembangan diri, passion penting dicari. Passion dapat menjadi sarana untuk aktualisasi potensi diri. Manusia-manusia sukses adalah manusia-manusia yang mampu menemukan passionnya secara baik.
Lalu apa relasi antara passion dengan cinta? Relasinya, menurut saya, cukup erat. Passion dan cinta bisa diibaratkan dua sisi mata uang. Satu sama lain saling melengkapi. Passion didasari cinta, dan cinta melahirkan passion.
Menurut Wishnubroto Widarso dalam buku Cinta Selayang Pandang (Yogyakarta: Kanisius, 2005), cinta itu mensyaratkan empat hal. Syarat pertama adalah CARE. Cinta mensyaratkan adanya perhatian serius. Orang yang memiliki cinta terhadap sebuah obyek akan memberi perhatian serius sebagai konsekuensi atas rasa cintanya. Kedua adalah Responsible, yaitu bertanggung jawab. Responsible berasal dari kata "respond" yang artinya menanggapi. Orang yang jatuh cinta tidak akan cuek dan acuh-tak acuh. Ia justru selalu bertanggung jawab dengan orang yang dicintai. Jika yang dicintai membutuhkan bantuan, ia siap memberikan. Ketiga, respect atau rasa hormat. Rasa hormat bukan berarti menyembah atau menjadi budak. Rasa hormat berarti memperlakukan obyek yang dicintai secara obyektif atau apa adanya. Bukan memaksa si obyek untuk menjadi sebagaimana yang kita inginkan. Tidak sedikit orang yang berharap agar obyek yang dicintai menjadi sebagaimana idealisasi kita. Jika ini yang terjadi namanya bukan respect tetapi pemaksaan. Dan keempat, knowledge atau pengetahuan. Orang yang mencintai tidak akan melabuhkan cintanya secara emosional. Cinta emosional adalah cinta yang semata-mata berlandaskan rasa tanpa memberi ruang pada rasio. Rasa itu landasan cinta, tetapi harus diimbangi dengan rasio. Rasio itu yang kemudian menghasilkan usaha untuk mendapatkan pengetahuan terhadap obyek yang dicintai.
Empat syarat cinta sebagaimana pendapat Wishnubroto Widarso tersebut memiliki relasi yang erat dengan passion. Passion yang ada seyogyanya juga berlandaskan pada empat hal tersebut. Dengan begitu tidak akan melahirkan cinta buta yang bisa merugikan salah satu atau bahkan kedua belah pihak.
No comments:
Post a Comment